Go Back to Arabia: Islamophobia di Turki

Pukul 19.46 sore dari tanggal 26 Juli 2019, matahari bersinar hangat menenangkan. Aku dan dua putriku yang blasteran dengan penuh semangat berjalan pulang melewati trotoar-trotoar panjang yang menghubungkan taman rekreasi Florya dengan kereta api Marmaray. Putri pertamaku yang berumur 11 tahun meloncat-loncat kecil mengejar langkahku sambil tak henti menceritakan hal-hal menarik yang terjadi padanya hari itu. Putriku yang satu lagi dengan keluguan 4.5 tahunnya berkali kali memotong pembicaraan sambil memanggilku, “Anne, Anne (Mama)!”, dan sekali-kali berujar pada kakaknya “Latife, bekle, ben de Konuşmak istiyorum (Latife, tunggu, aku juga mau ngomong!)”. Aku pura-pura mendengar keduanya sambil mengangguk-angguk seakan mendengarkan. Gulat lidah kedua putriku ini adalah hal yang begitu normal, kecuali ketika tiba-tiba, dari seberang jalan, sekelompok pemuda dalam mobil berwarna putih, menatapku, kemudian mengajungkan jari tengah dan berteriak, “Go back to Arabia! (Balik ke Arab!)”.

Tak perlu terkejut. Peristiwa seperti ini bukanlah hal yang tak biasa. Jika Anda mengunjungi Turki dan menetap beberapa bulan sahaja, saya memastikan akan ada banyak cerita-cerita serupa yang Anda dengar, jika bukan Anda sendiri yang mengalaminya. Fenomena Islamophobia dan rasisme di Turki telah mulai ditelusuri oleh intelektual lokal, meskipun masih dalam jumlah yang sangat kecil.
Salah satu contohnya adalah kegiatan yang diselenggarakan pada bulan Mei tahun ini. Sebuah konferensi diadakan di Taksim, berjudul “Türkiye’de Irkçılık: Yaşayanlar Anlatıyor (Rasisme di Turki: Memahami (Mereka) yang mengalaminya”. Dalam konferensi yang diangkat oleh İnsan Hakları Derneği (Asosiasi Hak Azasi Manusia) bekerjasama dengan Friedrich Ebert Stiftung, Meral Çıldır, anggota Komisi Melawan Rasisme dan Diskriminasi IHD mengatakan:
“Rasisme di Turki itu nyata, baik dalam institusi-institusi maupun kehidupan sehari-hari. Kita bekerja demi memperjelas persoalan-persoalan dan mendiskusikannya dengan berbagi pengalaman”.
Ia juga menambahkan bahwa di Turki rasisme ini hanya dipahami dalam bentuk biologis dan warna kulit. Sepanjang sejarahnya, rasisme hanya meliputi orang Turki dan Ke-Turkian dengan segala prakteknya. (http://www.sivilsayfalar.org/2019/05/09/turkiyede-irkcilik-yasayanlar-anlatiyor/)
Dalam link yang sama juga disebutkan bahwa rasisme di geografi yang paling dekat dengan hati Muslim di dunia ini belum mendapat cukup perhatian dari institusi-institusi publik pemerintahan dan media mainstream. Problema ini belum secara terbuka dapat diakui dan kemudian dipecahkan. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika sikap-sikap rasisme juga tanpa disadari diperihatkan oleh mereka yang menyebut diri golongan Islamis. Ini adalah imbas nation-state dan nationalisme yang perlu dibicarakan dalam artikel terpisah.
Meskipun tampaknya, institusi tersebut diatas mencoba menyentil permukaan persoalan rasisme di Turki dengan hanya memfokuskan pada korban-korban non Muslim diwilayah ini, realita bahwa rasisme diwilayah ini juga dialami oleh masyarakat Muslim, termasuk pelancong dan migran-migran muslim internasional, sayangnya diabaikan jika bukan terlewatkan begitu saja.
Ini barangkali dipicu oleh paradigma bahwa Islamophobia dan rasisme adalah dua hal yang berbeda. Islamophobia tidak melibatkan sentimen negatif berdasarkan stereotip dan warna kulit, sebaliknya hanya berpusat pada ke-Islaman, sebagaimana yang diyakini oleh Julianne Hammer saat memberi kelas Musim Panas di Uskudar oleh ILEM yang ku hadiri beberapa waktu lalu. Ini sebuah penyangkalan.
Sebagian masyarakat terdidik Turki masih belum ingin berangkat dari realita masa lalu dimana Islamophobia, dipercayai, ada dalam kotak tanpa perbedaan warna kulit. Pada faktanya, masyarakat Turki telah lama membedakan diri mereka sesuai Ras, Ras Eropa atau Asia (Anatolia). Ras kedua pernah dipandang sebagai ras inferior.
Bagi masyarakat Muslim, Islamophobia dan rasisme saat ini bagaikan dua sisi dalam satu koin. Masyarakat Muslim berkulit putih hanya akan mengalami bentuk Islamophobia. Masyarakat Muslim dengan warna kulit mengalami Islamophobia dan rasisme. Masyarakat Muslim di Turki tanpa embel-embel ‘Arab’ dan non-praktikal, disadari atau tidak, punya peluang sosial yang lebih baik. Setidaknya diskriminasi tidak dialami secara eksplisit.
Aku sebelumnya telah sering mendengar dari teman-teman non-Turki berbagai pengalaman mereka dalam menghadapi diskriminasi berdasarkan rasisme, hingga sebuah bentuk fasisme. Kebanyakan teman-temanku yang mengalami hal tersebut diatas ini berasal dari Indonesia, Malaysia, Bangladesh, Afrika dan Mesir. Migran Muslim (dan non- Muslim) berkulit coklat dan tak mampu berbahasa Turki adalah kelompok yang lebih rentan menjadi korban rasisme.
Aku adalah contoh yang paling dekat. Momen-momen diluar rumah bagaikan sebuah gulat kebatinan. Belum pernah sekalipun ku terbebas dari perlakuan kasar jika tidak ditemani suamiku yang berkebangsaan Turki. Hal terakhir ini terkait dengan betapa Turki secara kultural masih dalam dominansi lelaki.
Imbas Kebanjiran Pengungsi atau Perubahan arus Politik?
Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir Turki dibanjiri ratusan ribu pelancong, pelajar, pedagang, penanam modal dan pengungsi. Kebanjiran ini dapat dikatakan mewakili negeri dari seluruh dunia. Angka orang Asing di Turki semakin tinggi setiap tahunnya, baik yang hanya menetap sementara atau yang secara perlahan memutuskan menetap dalam waktu lama.
Yang paling mengejutkan barangkali adalah interaksi antara masyarakat Turki dengan pengungsi-pengungsi korban perang. Kedua pihak shock dengan segala perbedaan. Tema- tema “integrasi”pun semakin banyak dibincangkan dalam forum-forum intelektual, ekonomi, dan politik. Meskipun Kebijakan Presiden Erdogan yang dilandasi oleh gabungan nilai Watan dan Islam terhadap pengungsi menghasilkan satu ukuran protektif, semakin tinggi pula angka masyarakat Turki, terutama mereka yang lebih bersanding dengan pemikiran-pemikiran Barat, memandangnya sebagai persoalan, meragui akuntabiliti dan relevansi dengan nilai-nilai fondasi Republik Turki.
Mereka yang hidup berjauhan dengan lokasi pusat pengungsi di bagian Barat Turki contohnya adalah kelompok yang lebih reaktif secara negatif terhadap pengungsi yang kebanyakannya berdomisili di bagian Timur dan Tengah.
Kebenaran versi media sosial dalam satu sisi berperan besar dalam mengebalkan kritik terhadap rasisme. Argument-argumen pro dan kontra seakan menormalkan dehumanisasi berdasarkan rasisme.
Apalagi saat ini, Presiden Amerika Serikat, negara yang disebut-sebut kiblatnya kemajuan dan demokrasi barangkali telah membantu normalisasi pelecehan-pelecehan berdasarkan suku dan agama. Akibatnya, sisa-sisa pendukung racial superiority, khususnya, superiorti Ke-Turkian, seakan mendapat amunisi untuk keluar dan berteriak secara blak-blakan “pulang ke Arab” saat melihat jilbabku, atribut yang saking bodohnya disalah-pahami sebagai atribut Arab. Kelompok ini dikategorikan sebagai kelompok Laic adalah cerminan kelompok far-right di Amerika, yang bermimpi kebebasan dan keadilan hanya datang dengan kebangkitan zaman Ataturk. Meskipun begitu, jumlah Islamophobis di Negeri Bosphorus ini masih dalam jumlah kecil.
Beberapa pihak berpendapat dengan kemenangan CHP (Partai Republik Rakyat) baru-baru ini diwilayah kunci; Istanbul dan Ankara, menyarankan naiknya gejolak lama, termasuk Arabphobia, Islamophobia, dan rasisme. Apakah perkembangan ini betul-betul dipicu oleh kemenangan CHP, ini perlu diselidiki lebih lanjut. []

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

More articles ―