Revisiting atas Angin: Sebuah Review

Pada tanggal 25 September lalu saya menghadiri
bedah buku Revisiting Atas Angin: A review of the Malay Imagination of Rum, Ferringhi,
and the Penjajah yang dikarang oleh Prof. Ahmad Murad Merican. Acara ini  diselenggarakan di ISTAC Kuala Lumpur. Untuk
durasi satu setengah jam, bedah buku ini dimoderatori oleh sang prolifik, Prof.
Osman Bakar, Direktur Utama ISTAC bersama dengan beberapa komentator ahli
seperti Emeritus Professor Datuk Muhammad Abu Bakar Abdullah dan Dato’ Halimah
Mohd Said. Keduanya adalah Sejarawan ternama di Malaysia.

Persoalan utama yang pengarang
coba kemukakan adalah seputar kesadaran Melayu terhadap bangsa lainnya; Turki,
Portugis, dan Penjajah. Sepanjang Abad ke 20,
ketika diskursi sejarah pribumi kian melonjak, kajian kajian mengenai
pandangan orang lokal terhadap pendatang Eropa terbilang sangat sedikit.
Sebaliknya kajian-kajian soal pandangan pendatang Eropa terhadap pribumi begitu
dominan, tidak hanya pada abad ke 20 tetapi dapat ditelusuri berabad-abad jauh
sebelumnya. Nah, Prof Merican mencoba mengulik kekurangan ini. Ia menggali
nama-nama, gambaran, dan kesan-kesan orang pribumi terhadap pendatang
Turki,Portugis, dan Para Penjajah. Untuk itulah, ia mengkuliti diksi dan
kalimat yang ada dalam berbagai hikayat.
Lewat cara ini juga,Ia melihat
transformasi imej bangsa-bangsa lain itu dari sebelumnya sebagai pendatang dan
pedagang yang mutual, hingga ke tahap formasi kebencian yang dipimpin oleh
periode penjajahan.
Hikayat Abdullah yang ditulis
oleh Abdul Kadir Munsyi adalah salah satu karya yang mendapat highlight. Ini disebabkan oleh realita
bahwa pandangan Munsyi begitu ramah dan welcome terhadap keberadaan dan
apa yang dibawa oleh tuan Inggrisnya. Salah satunya adalah apresiasinya terhadap
mesin percetakan yang menurutnya akan dapat membantu penduduk Melayu untuk
bangkit dari keterpurukannya. Mengingat hikayat ini dicetak tahun 1840an, tahun
tahun krisis bagi Muslim seluruh dunia, menyebabkan pandangan ini
kontroversial. Barangkali hal yang terlewatkan juga adalah kesadaran bahwa
ketika Abdullah Kadir al Munsyi memuja peradaban Inggris, pengarang-pengarang
Inggris, khususnya agen dagang kolonial dan independen begitu semangat
mendudukkan pribumi dalam tingkat terendah yang dituang dalam baris-baris
tulisan pelayaran mereka.
Buku yang tebalnya hampir 500 halaman
ini tersusun dalam dua bab utama. Bab yang pertama adalah Pengenalan. Topik
diskusi utamanya adalah seputar gambaran Orang Eropa ‘yang terbagi dalam 4
objek. Yang pertama adalah seputar
Ferringhi, Farang dan Rum. Disusul dengan pembahasan Si Farang dalam
pandangan Orang Siam. Dilanjutkan dengan Penjajah dalam lensa Panglima Awang. Yang
terakhir adalah soal Rum dalam kejiwaan orang Melayu. Bab yang kedua berpusat
pada Abdullah Munsyi dan Orang Putih.
The Corpus, yang memayungi 350 halaman lainnya, adalah bagian unik
dari buku ini. Ia didedikasikan bagi pembaca agar dapat menelusuri langsung
ekserp halaman-halaman dari hikayat yang menunjuk pada penamaan dan kesan
pribumi terhadap Eropa, secara eksplisit atau implisit.
keterbatasan sumber primer yang
hanya berlandaskan hikayat barangkali adalah satu-satunya titik lemah.
Sedangkan telusuran dari lembaran persuratan antara Sultan-Sultan melayu dengan
personalia-personalia terkait Inggris diperkirakan mampu membentuk
narasi-narasi yang lebih kaya seputar imej Orang Eropa bagi penguasa pribumi.
Seperti surat  Sultan Aceh kepada
administrasi Inggris di Pinang, Singapura atau di Bengal, ataubanyaklagi contoh
korespondensi lainnya. Meskipun begitu buku ini sangat signifikan. Krusialnya
yaitu Prof Ahmad Murad Merican telah menempatkan satu batu loncatan pertama bagi
pengkaji-pengkaji lokal lainnya yang akan melanjutkan apa yang belum sempat
ia   upayakan.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

More articles ―